
Tidak ada produksi massal yang reject rate-nya nol. Siapapun yang mengklaim itu sedang tidak jujur — atau tidak punya sistem QC yang cukup ketat untuk mendeteksi masalah.
Pertanyaan yang lebih relevan bukan 'apakah ada reject?' tapi 'berapa yang masih bisa diterima, dan apa yang menyebabkannya?'
Untuk produksi garmen massal dengan standar mid-to-high end, reject rate yang dianggap wajar berada di kisaran 2–5% dari total produksi. Ini bukan angka resmi industri yang universal — tapi ini benchmark yang realistis berdasarkan praktik produksi clothing brand lokal skala menengah ke atas.
Di bawah 2% adalah angka yang sangat baik, dan biasanya hanya dicapai konsisten oleh vendor dengan sistem QC berlapis dan dokumentasi produksi yang ketat. Di atas 5% adalah sinyal yang perlu ditangani — bukan diabaikan dengan alasan 'wajar di produksi massal.'
Ada dua kategori reject yang perlu dibedakan:
Brand yang serius mendefinisikan kedua kategori ini secara tertulis bersama vendor sebelum produksi dimulai — bukan mendebatnya setelah produk selesai.
Sebelum produksi massal dimulai, ada tiga hal yang perlu dikonfirmasi secara eksplisit:
Vendor yang tidak mau atau tidak bisa mendiskusikan ini dari awal adalah vendor yang menyerahkan semua risiko kepada kamu.
Reject rate 2–5% adalah angka yang realistis di produksi massal dengan standar yang benar. Yang lebih penting dari angkanya adalah: apakah kamu dan vendor punya definisi yang sama tentang apa yang dihitung sebagai reject, dan prosedur yang jelas jika angka itu terlampaui.
Di Skreen & Sound, standar QC dan definisi reject disepakati bersama klien sebelum produksi dimulai — bukan didebat setelah selesai.
Kalau kamu ingin tahu lebih detail soal sistem QC kami, kami terbuka untuk diskusi.
